Sabtu, 08 Agustus 2015

Gua Maria Ibuku GERIWENING




1.    Selintas Sejarah

Ü  Bagaimana kondisi sebelum ada gua ? Tanah itu milik siapa ? Lalu, apakah tanah “dihibahkan” ke gereja ?
Ü   Kondisi sebelum ada gua, tempat tersebut menjadi ladang tadah hujan, bila musim hujan tiba peternakan tersebut ditanami padi gogo. Di atas batu yang tanahnya masih sedikit tersisa bila musim hujan tumbuh rerumputan yang subur, sehingga oleh warga sekitar dijadikan tempat mengembalakan kambing.
Tanah yang dibangun Gua Maria adalah milik keluarga Gito Suwarno, selanjutnya tanah tersebut akan dihibahkan ke gereja Wedi  untuk tempat ziarah seluas 2088m2.
Ü  Semangat dasar apa hingga “mereka” menginginkan adanya gua ? Siapa tokoh-tokoh itu ?
Mugi Asma Dalem Gusti Kaluhurno, itulah semangat awal kami untuk mendirikan tempat Ziarah. Tentu hal ini ada latar belakang yang membuat kami mempunyai kerinduan.  Sejarah awal berdirinya gua Maria, Pertama saudara Yakobus Suroyo melihat sinar putih kebiru-biruan jatuh dibelakang rumah. Setelah melihat sinar Suroyo penasaran dengan sinar yang dilihat. Maka untuk melihat apa sebenarnya  sinar itu, setiap pkl 00.00Wib ia berdoa. Berdoa bukan hanya sehari dua hari tapi berbulan-bulan , dan akhirnya dalam doaya ia mendapat sebuah jawaban, dalam waktu sekilas ia melihat adanya bayangan wajah putih bersinar. Dan saat itu ada pesan singkat “Berilah patung ditempat ini, supaya dengan perantaraan ibu-Ku nama-Ku dikenal”.  Boleh dikatakan adanya gua Maria adalah jawaban sebuah doa. Pengalaman Ini merupakan pengalaman pribadi  tidak harus dipercaya. Dari pengalaman ini lalu kami glenak-glenik selanjutnya mau buat apa? Lalu ada teman dari Paroki Wedi Romanus Pambudi mengusulkan bagaimana kalau Almarhum Pak Gito Suwarno diberi penghargaan Beliaukan orang katolik pertama di sengon kerep, apalagi jasanya sangat besar bagi perkembangan umat dan juga warga sekitar. Usul demi usul kami tampung dan secara kebetulan Rm Sugiarto SCJ juga berkunjung ke Sengon Kerep dan mengusulkan “belakang rumahmu itu kalau diberi Gua Maria sangat bagus” lalu pertanyaan dilemparkan kepada Petrus Cipto Nlha kowe piye, karena saya paling senang dengan devosi kepada Bunda Maria ,lalu saya mengatakan buatlah Gua Maria yang kecil dulu Untuk perintisan. Kalau memang ini kehendak Allah akan menjadi besar tetapi kalau bukan kehendakNya pasti akan lenyap, tetapi kenyataanya menjadi besar. Dan mulai saat itulah kami mulai bergerak.
Ü  Bagaimana sikap hirarki ketika itu ?
Ü  Dari pengalaman ini lalu kami membicarakan ke romo paroki untuk minta pendapat dan ada salah satu umat mas Pambudi yang bersedia menyumbang patung Maria ukuran 40 cm dan diberkati oleh Romo Yanuar Ismadi Pr sebagai romo Rekan diparoki Wedi. Namun romo paroki tidak bisa merintis karena ada kesibukan lain maka perintisan oleh romo YR. Susanto SCJ dan Romo Gerardus Zwaard SCJ.
Ü  Bagaimana sikap pemerintah setempat sampai kabupaten ?
Ü  pemerintah setempat menyambut positif akan rencana ini, hal ini terbukti dari surat perizinan yang dikeluarkan pemerintah desa. Dari awal pembangunan dua kali kami mengadakan syukuran sekaligus sebagai sosialisasi kepada warga sekitar , dan warga menyambut sangat positif, bahkan sebagian besar dari pekerja adalah saudara-saudari kita yang muslim, bukan hanya desa kami tapi yang bekerja sudah antar kelurahan. Dan sosialisasi yang ketiga ini sosialisasi yang sangat besar, tgl 28 April 2011. Yang diundang adalh semua warga yang depan rumahnya dilewati peziarah ada dua kelurahan yang kami undang yakni kel Serut dan Kel Sampang, dari para warga RW-Kecamatan, kapolsek Koramil Gedangsari kami undang untuk acara sosialisasi ini. Dalam sambutanya dari Wakil kecamatan mengatakan kami sangat mendukung adanya tempat ziarah tersebut, bahkan pihak kecamatan berjanji akan mengalokasikan dana tahun 2012 untuk pembangunan jalan menuju tempat ziarah.
Ü  Bagaimana PROSES pembangunan fisik ? Mulai dari babat alas sampai gua dan sebagainya ?
Ü  Proses pembangunan fisik sangat lancar hal ini didukung oleh para donatur yang dengan tulus hati menyumbangkan uangnya untuk pembangunan ini. keterlibatan semua warga sangat nampak dalam hal ini. sampaiakhirnya kami mengembangkan sayab jadi bukan hanya orang katolik saja yang bekerja tapi orang muslimpun kami libatkan. Dalal hal ini suasana kekeluargaan, kerjasama sangat nampak sekali dalam pembangunan ini.



               Pada era 1970-an (kapan persisinya ?) Rm. Santo Seputra,Pr dan Rm Tjokroatmadja,Pr  -- dari Paroki Santa Perawan Maria (SPM) Bunda Kristus di Wedi, Klaten – sudah mengenal daerah Sengon Kerep. Mereka berdua datang melakukan pelayanan rohani dan pastoral kepada umat katolik setempat. Nama Sengon Kerep juga sering disebut-sebut dalam pengumuman menjelang akhir Misa Ekaristi.Intinya ada hari-hari tertentu kedua Romo berpastoral ke Sengon Kerep.
               Selanjutnya, pelayanan pastoral kepada umat di Wilayah Sengon Kerep terus berlanjut dan dilakukan oleh Rm. A. Hantoro Pr, Rm. Harjoyo Pr, Rm. Murdisusanto Pr, Rm. Y. Sukardi Pr,  Rm. Priyambono Pr (alm), Rm. Saryanto Pr, Rm. Purwatma Pr, Rm. Subagya Pr, Rm. Mantoro dan akhirnya sekarang Rm. Bambang Triantoro Pr, Rm. Juned Pr dan Rm.Bondan Pujadi Pr.
               Lalu bagaimana cerita berikutnya berkenaan dengan Gua Maria Giri Wening ? Adalah Yusup Paimin Gito Suwarno, warga “asli” Sengon Kerep. Dia orang katolik pertama di dusunnya, yang sanggup menghantarkan Sengon Kerep menjadi ladang Kristus. Berawal dari mengenang “jasa perintisan” sekaligus meneruskannya, plus kerinduan OMK (orang muda katolik) dalam kehidupan beriman, tersentuh untuk membangun tempat peziarahan.
               Rencana pembangunan tempat ziarah  disetujui oleh keluarga Gito Suwarno (Y Suroyo dan R. Pambudi ), dan didukung oleh komunitas Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) Yogyakarta, serta seluruh umat Sengon Kerep. Langkah pertama dimulai yaitu babat alas, pada 16 September 2009. Mulai merintis pembangunan tempat ziarah yang diawali dengan pembuatan jalan setapak menuju lokasi  yang akan dibangun tempat doa.
               Tentu saja, terlebih diawali dengan berbagai pertemuan dalam rangka sosialisasi kepada warga setempat sampai ke tingkat kabupaten.

Foto: sosialisasi rencana pembangunan

Foto: babat alas

               Pada 6 November 2009 pukul 19.00 WIB diadakan Misa Kudus yang dipersembahkan oleh Rm. YR. Susanto SCJ dan Rm. Gerardus Zwaard, SCJ.

Foto: Misa Kudus dipersembahkan Rm Susanto dan Rm Zwaard

               Langkah kedua adalah mengganti patung Bunda Mari. Yang semula tingginya 30 cm, diganti dengan ukiran batu setinggi 2 meter seberat 1 ton.Bunda Maria diukir di atas permukaan batu sembari menggendong putra-Nya.  Patung itu dibuat oleh seorang perajin beragama muslim di Muntilan. Bersama umat dan warga sekitar meski tidak katolik melakukan gotong royong. Mereka menurunkan patung dari truk dan menggotongnya sampai ke lokasi gua. Dengan penuh perjuangan akhirnya patung Bunda bisa menempati tempatnya. Disamping itu, umat bersama warga (non Katolik) telah terjalin erat dan bekerja. Para lelaki memecah batu dan para perempuan menggendong batu . Batu-batu dibawa ke atas untuk penataan lokasi hingga tampak indah.

Foto-foto: Patung Bunda dari bawah lalu dibawa truk, diangkat ke atas.
Foto pria memecah batu
Foto perempuan menggendong batu
               Pada 9 Juni 2010 diadakan Misa Kudus yang dipersembahkan Rm.Agustinus  Riyanto, SCJ. Pada kesempatan itu, patung Bunda diberkati dan Romo Riyanto mengganti nama: dari "Watu Gedhek"  menjadi“Taman Maria GIRI WENING” (Gunung Keheningan).

Foto: Misa bersama Rm Riyanto

               “Tempat ini akan menjadi berkat dan terberkati kalau umat di sini setiap hari menggunakan tempat ini untuk berdoa”, pesan Rm. Riyanto. Lebih lanjut pesannya, dalam menata tempat ini kita tetap menyatu dengan alam, memelihara apa yang ada,  dan tidak menebang pohon yang ada. “Keteguhan dalam iman akan menjadikan kuasa Tuhan semakin kuat bekerja. Kita tetap menyatukan hati dalam doa dan kasih penuh iman. Tuhan melalui Bunda Maria akan memberikan yang terbaik bagi umatNya dan dengan kuasaNya mampu mengubah penderitaan menjadi berkat bagi banyak orang. Tetap semangat dan teguh dalam iman”, lanjut Rm Riyanto
               Sekarang, para peziarah dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan juga dari luar Jawa berduyun-duyung datang ke Giri Wening. Mgr Edmund Woga dari Keuskupan Weetebula pernah  berziarah, dan juga Mgr.Johanes Pujasumarta , uskup Keuskupan Agung Semarang. Dalam kunjungan Pastoralnya sempat berkunjung ke Gua Maria Giri Wening.
Foto: Mgr…………………uskup Keuskupan Weetebula di depan gua
Foto: Mgr Pujasumarta Uskup Keuskupan Agung Semarang di depan gua
Foto:
Nb yang audiensi dengan bupati Gunungkidul adalah panitia Pembangunan pada hari Jumat, 9 Maret 2012. Di rumah dinas bupati)
2.     Lingkungan Giri Wening
·       Patung Bunda Maria(Foto)
Patung Bunda Maria membopong putra-Nya, mengapa memilih seperti itu ? Apa maknanya ?.pemilihan ini terispirasi dari jawaban sebuah doa lalu saya terjemahkan dalam bentuk patung Maria yang membobong bayi Yesus. Selama ini kebanyakan patung Maria yang berada ditempat ziarah adalah Maria Ratu, Maria berdiri sendiri. Maka saya sedikit membuat lain dari yang lain yaitu Maria Bersatu dengan PuteraNya. karena Maria dan Yesus bersatu erat dan tak terpisahkan. Dalam patung ini Maria menujukkan kepada kita pada Hati Kudus PuteraNya. Supaya dengan perantaraanku semua orang mengenal anakku. Vivat Cor Jesu Per Cor Mariae (Hiduplah hati Yesus melalui hati Maria)
·       Jalan Salib(Foto): Uraian sepajang jalan salib kita akan melihat pemandangan yang indah, batu-batu besar turut menyemarakan perjalanan salib …………………
·       Golgota(Foto): uraian Pucak golgota dibuat berbeda dengan yang lain juga.Salib di Golgota tanpa korpus, saya terinspirasi mengapa akhir jalan salib kita masih merenugkan yesus yang tersalib.di Giri wening ini kita diajak untuk merenungkan Yesus yang bangkit.(ada patung kebangkitan) dalam hai ini terinspirasi oleh Injil Yohanes dimana Golgota, Taman dan kubur letaknya sangat berdekatan (ada Kubur kosong yang terbuka batunya) ……………………………..
·       Pendopo(Foto): dipakai untuk …istirahat kadangkala untuk perayaan misa dalam jumlah kecil(untuk kelomopok-kelompok)……………………………..
·       Kapel(Foto):  dipakai setiap hari Sabtu untuk perayaan Ekaristi umat Sengon Kerep……………………………
·       Ada yang lain?(Foto-foto)…alm Gito Suwarno Katolik pertama (dalam bentuk fisik perlu discan)………………………………….

3.      Kesaksian-kesaksian(syukur ada Fotonya)
            Sekitar 5-10 orang, dengan RAGAM  “mukjizat” yang dialami, misalnya: sembuh dari penyakit…., akhirnya punya anak, dapat calon suami/istri, menerima “panggilan hidup” membiara, dan sebagainya.
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................
ü  Bapak / Ibu / Sdr: ....................................   Apa mujizatNya: ..............................................

4.    Lokasi

               Bila Anda dari Jakarta atau Bandung menuju ke Jogjakarta, dilanjutkan ke arah Klaten. Sesampainya di traffic light (lampu “bangjo”) pertigaan Bendo Gantungan, belok ke KANAN. Sementara itu sebaliknya, bila Anda dari Surabaya atau Malang menuju ke Solo, dilanjutkan kea rah Klaten. Sesampainya di traffic light (lampu “bangjo”) pertigaan Bendo Gantungan, belok ke KIRI.

               Perjalanan dilanjutkan menuju ke arah Pasar Wedi. Setelah melewati Pasar Wedi ada Masjid Agung Nurul Jami, kalau ke kiri kearah Cawas atau Bayat, tapi Anda ambil yang lurus sampai menemukan perempatan Desa Gunungan. Dari perempatan itu ambil jalan yang lurus kearah selatan, sampai mentok di bawah kaki gunung. Berikut, setelah sampai kaki gunung ambil arah kiri, daerah ini namanya Jogoprayan, diujung desa tersebut ada pertigaan jalan lurus, ikuti terus jalan tersebut sampai menemukan desa Sampang. Nah akhirnya, dari desa Sampang mencari Desa Sengon Kerep, itulah tempatnya Gu Maria Giri Wening.

Rabu, 05 Agustus 2015

Sekilas sejarah iman katolik di Tana Toraja


REFLEKSI 75 TAHUN GEREJA KATOLIK di TORAJA: Apakah Tuhan Membutuhkan Gereja?

Penulis : RD. Cornell R. Tandiayuk

Tahun ini adalah tahun bersejarah bagi Gereja Katolik di Toraja karena berkaitan dengan Yubileum 75 tahun pembaptisan pertama empat orang anak Toraja di Tampo, Makale pada tahun 1938.   Baptisan pertama anak Toraja tersebut dimaknai sebagai awal keberadaan Gereja Katolik di bumi Toraja, Tondok Lepongan Bulan, Gontingna Matari’allo. Umat Katolik pantas bersyukur memaknai peristiwa tersebut. Betapa tidak, setelah peristiwa tersebut ada serangkaian peristiwa selanjutnya yang luar biasa. Gereja Katolik di Toraja dari hari ke hari terus berkembang dan menorehkan seribu satu macam kisah di hati orang Toraja. Bagaimana pun juga Gereja Katolik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Toraja baik yang tetap bermukim di Toraja maupun yang hidup di luar wilayah Toraja.

Perayaan 75th  baru saja dilaksanakan dengan sangat meriah dalam Perayaan Ekaristi di paroki tertua Hati Tak Bernoda Maria, Makale. Perayaan yang dihadiri oleh ribuan umat Katolik dari dua belas paroki se-Kevikepan Toraja, dipimpin oleh Yang Mulia Bapa Uskup Keuskupan Agung Makassar. Suara riuh rendah mewarnai perayaan ini terlebih pada saat baru dimulai. Beraneka bunyian terdengar dari berbagai sudut jalanan kota Makale tempat hajatan. Gendang ditabuh dengan penuh semangat oleh anak-anak sekolah  mengiringi ratusan teman mereka yang sedang menari tarian Toraja. Ada kesulitan melukiskan keramaian ini dalam kata. Singkatnya sangat ramai. Semua bernuansa gembira. Perayaan yang sarat dengan nuansa budaya Toraja telah menyebabkan lalu lintas kota Makale sejenak macet.

Oleh karena itu, ada kerinduan menuangkan dalam tulisan kata hati.  Sebagai bagian dari rumah besar bernama Gereja Katolik, tak ingin rasanya momen ini berlalu begitu saja tanpa sedikit permenungan. Isi perpenungan ini tentu berada dalam bingkai sukacita dan syukur di hati atas karya agung Tuhan di atas bumi secara khusus Bumi Toraja, dalam dan melalui Gereja Katolik. Namun selain rasa syukur terbersit pula pertanyaan pengharapan, apakah Perayaan Meriah Yubileum 75 Tahun Gereja Katolik di Toraja, adalah tanda-tanda zaman jika di masa-masa yang akan datang Gereja Katolik akan menuai panenan berlimpah dan semakin membuktikan dirinya sebagai tanda kehadiran Allah di Bumi Toraja. Maka pada gilirannya orang-orang Toraja dalam bahasa syukurnya yang khas dapat berujar tentang Gereja Katolik: “Kasalle ia dadinna, lobo’ tongan garaganna, kasalle langngan, memba’ka’ lobo’ sia ma’bau pangden, kasalle na busarungngu’, lobo’ na bupare rompon”.

Reorientasi Hidup Menggereja

Saya tidak bisa melupakan satu pengalaman mengikuti short course tentang Multikulturalisme dan Pluralisme yang diadakan oleh IMPULSE sebuah lembaga nonprofit  berkedudukan di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Salah seorang nara sumber tetap IMPULSE adalah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U. Dalam seminarnya, Prof Munir banyak berbicara tentang ISLAM yang dihayatinya. Ia adalah seorang tokoh Muhammadiyah dan juga Guru Besar di Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Islam yang dihayati dan dituangkannya dalam gagasan-gagasannya dan juga dalam perwujudan hidupnya seringkali mengundang reaksi kontroversial terutama di “kandang”nya sendiri. Dia suka mengkritik praktik-praktik beragama sebagaimana pada umumnya sedang berlangsung dan mengajak orang beragama secara lain.

Menurut Prof. Munir praktik keagamaan sekarang ini justru sering membawa “proletarisasi” atau pemiskinan massal umat dari nilai-nilai religiositas alami mereka. Orang yang mencoba kritis terhadap situasi ini sering kali dianggap sebagai “kiri” atau bidaah. Padahal “kiri” dalam konteks sosial-politik negeri ini senantiasa dilawankan dengan agama. Ia menegaskan bahwa kebenaran keagamaan ialah  “kejujuran” dan itu ditemukan dalam kesejarahan hidup manusia dari waktu ke waktu dan bukannya dalam wilayah metafisik yang filosofis belaka.  Oleh karena itu ia mengajak orang untuk mereorientasi keseriusan dalam beragama. Melalui penghayatan hidupnya yang unik ia mengundang umat untuk melakukan JIHAD dari hal-hal metafisik ke kehidupan sehari-hari yaitu kesatuan antara kontemplasi dan aksi. Jihad menurut Prof Munir haruslah lebih diarahkan untuk melawan situasi kemanusiaan yang tidak manusiawi.

Di berbagai kesempatan  Prof.  Munir  menggunakan istilah “sufi pinggiran” sebagai afirmasi atau pengakuan bahwa semua orang memiliki kesadaran ilahiah dan kearifan ilahiah yang otentik. Oleh karena itu hidup keagamaan (religiositas) haruslah menyentuh disposisi batin (disposition of the mind) yang mengutamakan transformasi hidup. Dan semua manusia bisa mencapainya karena pada dasarnya manusia adalah mahluk religius. Jika hidup dan praksis keagamaan tidak mengantar manusia semakin berkeadaban dan semakin manusiawi terhadap sesamanya, maka hidup keagamaan tersebut tidak bernilai apa-apa. Tuhan seyogianya dirasakan dalam kepedulian sosial antar-manusia dan sosial budaya yang berkeadaban.

Senada  Prof  Munir, Almarhum Pendeta Dr. Eka Dharmaputera,  pada akhir tahun 1999,  ketika beliau menerima penghargaan prestisius Abraham Kuyper Award dari Princeton Theological Seminary menyampaikan pidato yang sangat memukau hadirin. Isi pidatonya adalah mengenai peran Gereja-gereja di Indonesia pasca-rezim Soeharto. Era pasca-Soeharto (rezim Orde Baru) adalah Era Indonesia mulai memasuki masa transisi demokrasi. Menurutnya dalam masa transisi ini Gereja-gereja di Indonesia ditantang untuk memainkan peran transformatifnya, jika tidak, gereja hanya akan menjadi sekadar alat bagi kepentingan sempit demi kekuasaan suatu kelompok. Bagi Eka Darmaputera, persoalan yang sedang dihadapi umat beragama di Indonesia pasca rezim Soeharto bukan hanya pada perubahan konfigurasi sosial politik yang memaksa seluruh elemen bangsa untuk mencari titik keseimbangan baru namun juga menyangkut masalah fundamental hidup keberagamaan tak terkecuali Gereja-gereja, berupa ancaman “irrelevansi eksternal dan insignifikansi internal”.

Persoalannya bukan karena Gereja-gereja itu sedang sekarat dan tenggelam, sebaliknya mereka tetap hidup dan bersemangat, bertumbuh dan makin besar setidaknya dipandang dari meriahnya perayaan-perayaan gerejani, pembangunan-pembangunan fisik, jumlah umat dan sebagainya. Namun dikhawatirkan kehadiran Gereja-gereja di Indonesia terutama selama Masa Reformasi ini akan semakin mengalami tantangan serius dari luar dan dari dalam dirinya sendiri.

Menjadi irrelevan karena Gereja sibuk dengan dirinya sendiri. Komunitas Kristiani hanya memikirkan perayaan ritualnya yang meriah mengadopsi budaya panggung, fashion dan entertainment populer. Kepuasan demi kepuasan dicari melalui seremonial belaka dan berhenti di situ. Dengan cara-cara seperti itu sering terselubung motif bagaimana mengumpulkan sebanyak mungkin umat yang mendatangkan  kolekte berlimpah. Dalam konteks ini, kesuksesan sebuah paroki seringkali barometernya adalah jumlah kolektenya setiap minggu. Semakin banyak kolektenya semakin hebatlah paroki tersebut. Perihal apakah umat semakin mengalami transformasi bathin dan semakin hidup berkeadaban seringkali menjadi issu yang tak tersentuh sama sekali.

Selain itu Gereja seringkali dikondisikan oleh warganya sendiri menjadi semacam media transaksional dan locus aktualisasi kepentingan. Tidaklah mengherankan apabila terdengar suara hingar-bingar perlombaan menjadi pengurus dan pejabat Gereja. Hal yang tidak berbeda dengan hingar-bingar perlombaan  menjadi pengurus partai politik.  Oleh karena kesibukan internalnya itu, Gereja melupakan bahwa ia memiliki misi mulia yakni hadir di tengah-tengah masyarakat dan  mempedulikan kenyataan sosial masyarakat. Istilah biblisnya; “menjadi garam dan terang dunia”. Akibatnya di banyak tempat  Gereja menutup diri pada setiap pergaulan dan pergumulan sosial  bahkan cenderung memilih sikap eksklusif. Kehadiran Gereja bagi masyarakat dan bangsa semacam ini kemudian dirasakan tidak relevan (irrelevant) karena pilihan sikapnya yang a-politis dan a-sosial.

Dalam konteks Gereja Diaspora, sikap a-politis dan a-sosial Gereja akan selalu mengundang kecurigaan yang sangat apriori dari masyarakat. Mereka akan menilai kehadiran Gereja di lingkungan mereka adalah sebagai upaya kristenisasi. Maka marak di berbagai tempat muncul penolakan masyarakat terhadap keberadaan Gereja di lingkungan hidup mereka dan diperparah lagi oleh system politik yang cenderung dimainkan di ranah agama.

Kenyataan lain yang sebaliknya dapat terjadi adalah tampilnya wajah gereja di mana-mana.  Beberapa tempat di Indonesia antara lain Toraja, warga masyarakat mayoritas warga Gereja. Oleh karena itu mau atau tidak mau Gereja tampil  di mana-mana mulai dari ruang-ruang privat hingga ke ruang publik secara meluas.  Fenomena “keserba-hadiran” Gereja semacam ini tidak menutup kemungkinan mengalami devaluasi sakramentalnya. Agama mana pun jika mengambil bagian dalam kesibukan sosial-politik dan budaya tanpa batas dan cenderung bersifat A-teologis akan tiba saatnya menjadi insignifikan bagi umatnya. Ancaman insignifikansi terjadi karena aktivitas Gereja sebagai institusi sakramental, tidak bisa lagi dibedakan dari berbagai aktivitas budaya yang kontemporer, ekonomi ala kapitalis dan politik pragmatis masyarakat. Bahkan sangat mungkin Gereja lebih berwajah lembaga politik dan ekonomi daripada institusi sakramental.

Pada masa kini sistem modernisme disanjung dan dipuja-puji oleh banyak kalangan. Sistem ekonomi pasar bebas didengungkan di mana-mana meskipun isinya sebagian besar masyarakat tidak tahu. Oleh karena itu, selalu muncul godaan bahkan kecenderungan di kalangan umat beragama mengambil alih tata kelola (manajemen) intitusi-institusi sekular yang bersifat modern tersebut untuk menggantikan tata kelola (manajemen) gereja yang dianggap ketinggalan zaman. Apakah cara-cara baru yang dianggap modern tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara teologis biblis sebagaimana tertuang dalam tradisi dan ajaran iman (magisterium)? Jawabannya adalah belum tentu. Malah prinsip-prinsip dari sumber ajaran iman tidak dipakai sama sekali sebagai  kerangka berpikir dan berbuat.

Tentu Gereja bukanlah lembaga yang anti perubahan dan modernisasi tetapi Gereja tetap harus kritis bahwa tidak semua sistem modern, yang paling canggih sekali pun, bisa dan dapat dipakai sebagai sistem dalam mengatur kehidupan menggereja.  Kekayaan warisan teologis yang telah menjaga religiositas umat beriman selama berabad-abad sekaligus menjadi kekuatan Gereja tetaplah penting. Jika semua tradisi Gereja dinafikan atau direlatifkan ketika berhadapan dengan modernisasi perlu diwaspadai karena seringkali inilah akar dari penyakit berbahaya bernama insignifikansi internal dalam Gereja. Di balik kemegahan dan kecanggihan manajemen modern kadang tidak bisa dipisahkan dari liberalisme dan kapitalisme yang memberi tekanan bahwa kualitas manusia ditentukan hanya oleh kompetensi, efisiensi, kegunaan (useful) tetapi mengabaikan sama sekali spiritualitas. Dengan kata lain tak peduli anda mengenal Tuhan atau tidak yang penting anda kompeten dan berguna.

Saya memberi judul tulisan ini “Apakah Tuhan Membutuhkan Gereja?” Judul ini adalah judul buku dari Gerard Lohfink “Does God Need the Church”. Karya Lohfink ini  sangatlah  provokatif. Gerard Lohfink adalah seorang teolog dan guru besar Kitab Suci di Universitas Tübingen, Jerman. Ia seakan-akan membangunkan kesadaran baru umat beriman tentang hidup menggereja. Ia sendiri sedikit pun tidak meragukan pentingnya Gereja dalam konstruksi sosial dan keselamatan manusia.  Lohfink yang berlatarbelakang  ahli Kitab Suci dengan mudah menjawab YA atas pertanyaan refleksif tersebut dengan menunjukkan bukti-bukti biblis mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

Lohfink menjelaskan bahwa pada  Zaman Perjanjian Lama, Tuhan bertindak melalui komunitas manusia yang berkumpul dalam nama-Nya dan percaya kepada janji-janjiNya. Tuhanlah yang berinisiatif memilih komunitas ini dan pilihan tersebut melulu menurut kerelaan kehendak-Nya. Komunitas manusia itu adalah Israel. Mereka adalah komunitas istimewa yang telah ditentukan oleh Tuhan guna melaksanakan janji-janji-Nya. Lohfink menggarisbawahi bahwa penyelamatan dunia menuntut suatu tempat tertentu. Tempat itu pertama-tama adalah Bangsa Israel. Namun kemudian hari dalam dinamika keselamatan proyek penyelamatan itu akan mengalami kepenuhan di dalam dan melalui Gereja.

Dalam hidup komunitas yang pertama yaitu Israel, Tuhan menjadi Penjamin dari komunitas baru tersebut. Keyakinan itu sangat kuat pada saat pembebasan dari Mesir. Mereka menyadari bahwa mereka dipilih oleh Tuhan dan keberadaan mereka tidak berarti apa-apanya tanpa  Yahwe (Tuhan). Oleh karena itu bagi mereka Tuhan adalah Tuhan di atas segala-galanya. Lohfink menunjukkan bahwa karakter utama yang menentukan di dalam Perjanjian Lama ialah keterbukaan radikal ke masa depan yakni kedatangan Mesias. Sejarah Israel adalah sejarah sebuah bangsa yang sedang mempersiapkan sebuah komunitas baru dalam iman kepada Mesias Sang Penyelamat. Mesias itu  yang dimaksud mengarah kepada pribadi Yesus Kristus.

Di dalam Yesus, Israel diberi pusat kehidupan baru yaitu Diri Yesus sendiri. Hidup keagamaan komunitas baru ini ditandai oleh ketakterpisahan mereka dengan pribadi Yesus yang bangkit. Dan hubungan istimewa dengan Yesus tersebut membedakan komunitas baru ini secara sangat radikal dari penghayatan dan praksis hidup keagamaan sebelumnya (Yudaisme). Mengapa bisa terjadi? Hal ini tidak bisa dilepaskan dari hidup Yesus sendiri. Hidup Yesus sendiri menjadi undangan bagi semua orang untuk menjalani kehidupan berelasi dengan Allah, Bapa dengan spritualitas baru.  Jesus “gathered” people are no by means “like-minded people”, so different, they share the same table, the same “missio apostolica” and the same “vita apostolica” (Lohfink Gerard, Does God need the Church, pp 176-177). Mereka secara total menyerahkan diri mereka ke  dalam kebersamaan baru di mana mereka mendedikasikan diri mereka untuk pelayanan kepada yang lain. Cara hidup baru yakni mendedikasikan hidup kepada orang lain merupakan awal perjuangan mengakhiri kelas-kelas sosial dalam masyarakat pada zaman Yesus. Semua orang bermartabat sama di hadapan Allah. Allah berbelarasa kepada semua orang maka konsekuensinya adalah manusia pun harus saling berbelarasa satu dengan yang lain. Praksis inilah yang sering kita sebut solidaritas kristiani.

Pada zaman yang ditandai oleh berbagai gelombang perubahan seperti sekarang ini, menurut Lohfink, Gereja harus berani melakukan exodus baru dari masyarakat lama ke bentuk hidup komunitas baru. Exodus Israel dari Mesir adalah bentuk upaya pemurnian sehingga hidup komunitas mereka semakin mengakar dalam kesatuan dengan Allah dan kesatuan serta solidaritas di antara mereka sendiri. Exodus tersebut dapat dimaknai sebagai upaya transformasi diri dan pembatinan perintah Tuhan baik dalam hidup individual lebih-lebih secara komunal dalam komunitas Umat Pilihan. Pada zaman Yesus, dengan latar belakang sosial keagamaan tertentu yakni Yudaisme, Yesus menyatakan bahwa keselamatan hanya mungkin jika orang-orang Yahudi mau exodus dari cara-cara lama mereka dan mengikuti Yesus. Mengapa mereka harus exodus dari praksis beragama Yudaisme? Karena Yudaisme telah menjadi sebuah institusi yang status quo dan menjadi tempat berlindung mereka yang tidak ingin melepaskan status quo: strata sosial-agama, strata ekonomi dan sebagainya. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:17-20).

Dalam konteks Gereja,  Lohfink meyakini bahwa Gereja juga hanya bisa survive apabila Gereja selalu bersedia melakukan exodus. Hal ini sejalan dengan semboyan, “Ecclesia Semper Reformanda”.  Paus Yohanes XXIII menggunakan istilah “aggiornamento” yang mengandung makna Gereja harus membuka jalan exodus dari cara-cara lama ke bentuk-bentuk yang baru baik pada tataran teologis maupun praksis kehidupan. Paus Yohanes Paulus II sangat familiar dalam menggunakan istilah “evangelisasi baru”. Jadi sesungguhnya sudah lama pemimpin Gereja menyadari pentingnya exodus baru dalam Gereja agar tetap survive mewartakan kabar gembira.
>
> Tentu saja exodus yang dimaksud bukan sembarang exodus yang tanpa pedoman arah.  Tetapi exodus yang berlandaskan Sabda Allah. Hal itu berarti Gereja harus sungguh menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupannya, karena Dialah Sabda yang menjadi manusia.  Bangsa Israel telah membuktikan bahwa hanya jika mereka setia kepada perintah Yahwe (baca: Tuhan) mereka bertahan, sebaliknya jika tidak setia mereka binasa. Demikian juga Gereja, jika tidak setia kepada Sang Sabda maka akan kehilangan orientasi hidup. Maka exodus yang harus dijalani oleh umat beriman bernama Gereja pertama-tama adalah transformasi hidup berdasarkan Sabda Allah. Gereja mempunyai misi mewartakan kabar gembira kepada segala bangsa mengikuti perutusan Sang Sabda, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus" (Matius 28: 19).

Menimbang Masa, Dulu dan Sekarang

Saya sangat menyadari bahwa ruang untuk memaparkan seluruh sejarah masa lalu hingga kini mengenai Gereja Katolik di Toraja melalui artikel ini sangatlah terbatas. Tulisan ini tidak dimaksudkan pula untuk menulis sejarah. Namun beberapa pengalaman masa lalu yang dikisahkan oleh banyak orang tua tentang jejak-jejak kehadiran Gereja Katolik di Bumi Lepongan Bulan akan mengisi bagian ini sebagai obyek refleksi. Sejumlah orang tua bertutur mengenai ingatan mereka tentang Gereja Katolik pada tahun-tahun awal kehadirannya dan bagaimana gereja mengambil hati Orang Toraja pada waktu itu. Banyak sekali kisah romantis yang terungkapkan dalam nostalgia mereka, seperti kunjungan pastor, pendirian sekolah, pendirian gereja dan lain sebagainya.

Salah satu kisah yang menarik dari masa lalu itu bagaimana mendapatkan lokasi pendirian gedung gereja. Beberapa Gereja didirikan di atas tanah yang dihibahkan oleh keluarga yang tidak Katolik atau Kristiani.  Dalam catatan sejarah sekian tahun kemudian persitiwa itu tentulah sangat mengesankan. Bagaimana mungkin mereka yang tidak atau belum dibabtis itu dengan mudah tanpa kecurigaan menyerahkan tanah mereka kepada Gereja, yang notabene tidak mereka kenal sama sekali? Jawaban sederhana kita adalah karena pada masa itu harga tanah masih murah. Namun kerelaan memberi tersebut bukanlah perkara transaksional melainkan nilai memberi menjadi penting. Nilai religiositas mengambil bagian penting dalam penyerahan tanah tersebut. Nilai memberi dihayati sebagai perwujudan dari iman kepada Dzat yang lebih tinggi. Selain itu inklusifitas religi mewarnai seluruh praksis keagamaan tradisonal tersebut sehingga toleransi ikut menjadi ukuran kedalaman penghayatan iman mereka. Inilah yang oleh Prof. Munir disebut kesadaran dan kearifan ilahiah yang otentik.

Nah, bagaimana dengan keadaan sekarang? Adakah keberadaan Gereja baik dalam arti sempit institusi maupun dalam arti luas umat Allah yang dibaptis tetap memelihara bahkan mengembangkan kesadaran dan kearifan ilahiah yang otentik tersebut? Membandingkan masa lalu dan masa kini, hal yang memiriskan hati adalah justru fenomena terbalik  jika di beberapa tempat, orang-orang Toraja yang sudah dibaptis dan menjadi Katoliklah yang justru menggugat lokasi Gereja. Dulu diserahkan oleh nenek-kakek mereka, kini oleh anak cucu digugat. Tak dapat dipungkiri jika saat ini tanah menjadi sangat mahal. Di mana-mana harga tanah melambung tinggi karena luasnya tak bertambah sedangkan manusia semakin bertambah. Kenyataan tersebut menyebabkan orang berlomba menguasai tanah seluas hak-hak dan kemampuannya. Sehingga tidak jarang bersinggungan dengan tanah lokasi Gereja.

Repotnya di beberapa tempat (paroki atau stasi) Gereja sebagai institusi tak memiliki surat-surat resmi seperti Akte Hibah. Gereja selama bertahun-tahun hanya mengandalkan rasa percaya saja kepada keluarga yang dulu menyerahkan tanahnya. Seakan-akan tidak akan ada yang akan menggugatnya. Apabila di kemudian hari ternyata Gereja berhadapan dengan warganya sendiri karena digugat atas kepemilikan tanah maka sudah saatnya Gereja kembali merenungkan dirinya. Memang hal-hal ini sangat kasuistik dan masalah Gereja di Toraja saya yakin bukan hanya masalah tanah. Dalam hidup sosial patut kita membuka mata lebar-lebar. Banyak kalangan merasa sangat khawatir dengan perkembangan sosial budaya Toraja yang sedang mengalami krisis orientasi dan mulai didominasi oleh pragmatisme (bdk. George Aditjondro, Pragmatisme Menjadi To Sugi dan To Kapua di Toraja). Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa kebenaran membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Tidak peduli apakah caranya baik atau buruk. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja  membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis dan bermanfaat. Manfaat bisa bagi semua tapi lebih cenderung bermanfaat bagi kelompok tertentu. Wajah Gereja di mana-mana tetapi tidak berbanding lurus dengan kemajuan sosial, peradaban sosial dan religiositas sosial. Pragmatisme bergerak lebih cepat daripada gerakan spiritual Gereja dan kalau tidak mawas diri Gereja pun menjadi bagian dari pragmatisme tersebut.

Malahan  apa yang dahulu kala oleh nenek moyang orang Toraja dianggap sebagai media menjaga keseimbangan (harmoni sosial) bernama “pemali” kini tidak dipedulikan lagi. Sementara itu Gereja sebagai lembaga agama yang sudah sangat kuat paling tidak dalam arti kuantitas pengikut, belum maksimal menunjukkan dan memberikan kontribusi seperti apa yang tepat untuk menjaga dan memelihara warisan sosial budaya Toraja menuju peradaban yang lebih baik. Seratus persen Toraja, seratus persen Kristiani. Tentu Gereja tidak bisa cuci tangan dengan kenyataan-kenyataan sosial sebagaimana sedang berlangsung di depan mata kita sekarang. Karena berbicara mengenai perkembangan sosial-budaya orang Toraja sekarang ini berkonsekuensi logis dengan berbicara tentang Gereja.

Jika benar sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Munir Mulkhan bahwa krisis religiositas masyarakat kita sebagian disebabkan oleh proletarisasi atau pemiskinan massal umat dari nilai-nilai religiositas asli mereka, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa memudarnya loyalitas umat kepada Gereja berakar dari hal yang sama. Mengapa? Karena Gereja dapat dikatakan telah mengambil alih hampir seluruh penghayatan dan praksis hidup religiositas masyarakat Toraja dari yang tradisional asli ke dalam bentuk-bentuk baru khas Gereja. Namun pengalihan itu dapat saja a-teologis atau a-sosial atau keduanya sekaligus. Maka dalam konteks ini peringatan Eka Darmaputera tentang bahaya irrelevansi dan insignifikansi pantas diberi perhatian. Itu artinya Gereja harus segera exodus sebagaimana dikatakan oleh Gerard Lohfink.

Pada hari terakhir masa konklaf di dalam Kapel Sistina setelah terpilih menjadi Paus, Paus Fransiskus mengatakan,  “We can walk as much we want, we can build many things, but if we do not confess Jesus Christ, nothing will avail. We will become a pitiful NGO, but not the Church, the bride of Christ.”  Kita dapat berjalan ke mana saja kita kehendaki, kita dapat membangun banyak hal namun jika kita tidak mengakui Yesus Kristus, tidak ada sesuatu pun yang bisa memberikan manfaat. Kita akan menjadi sebuah LSM yang memilukan, namun bukan Gereja, mempelai Yesus Kristus. Banyak kalangan menilai terobosan Paus yang baru ini akan membawa pengaruh yang signifikan dalam Gereja Katolik dan dunia. Bapa Suci mengajak semua warga Gereja untuk bergerak melakukan exodus agar Gereja tetap survive melaksanakan tugas mahapenting dari Sang Guru, Yesus Kristus yakni menjadikan segala bangsa murid-Nya.   Di Rio de Janeiro dalam misa penutupan World Youth Day 2013, Bapa Suci mengatakan kepada lebih dari dua juta peziarah WYD,  “The opening words of the psalm that we proclaimed are: “Sing to the Lord a new song” (Psalm 95:1). What is this new song? It does not consist of words, it is not a melody, it is the song of your life, it is allowing our life to be identified with that of Jesus, it is sharing his sentiments, his thoughts, his actions. And the life of Jesus is a life for others. It is a life of service.”

Akhir kata semoga Yubileum 75th Gereja Katolik di Toraja menjadi momen yang baik dan berharga bagi kita semua untuk merefleksikan perjalanan kita sebagai Gereja demi terciptanya sebuah masyarakat yang berkeadaban dan kristiani.

Salam,
LP

Rabu, 08 Juli 2015

Rabu, 25 Maret 2015

Foto saat kita di Israel

Negara Israel 
    - Tanggal 19 Pebruari kurang lebih jam 3 sore waktu setempat di TABA kami melanjutkan perjalanan ke kota Betlehem, kurang lebih 4 jam. Selama perjalanan kami diberitahu tempat SODOM GOMORAH serta tiang Garam istri LOT. Selama perjalanan kita bisa lihat kiri kanan banyak sekali tanaman hibrida segala buahbuahan termasuk Pisang Apel Apokat dll. Waktu sudah malam rombongan sdh sampai di hotel Navity Betlehem.. suhu mash cukup dingin kirakira  16 derajat, lalu kita ambil kunci masuk kamar masingmasing. Kita semua terlelap tidur krn perjalanan dari Sinai ke Betlehem cukup panjang. Jika ingin ziarah KUKS di Holyland.klik
   - Tanggal 20 Pebruari telpon kamar berdering kirakira jam 5 pagi waktu Israel, dalam telpon Bapak Hari member kabar kalau di luar ada badai Salju dan hujan Salju Mulai jam 3 pagi tadi, jadi kita terperanjat lalu buka jendela, tertanyata sensasi yang kita rasakan adalah seperti orang udik yang memang kaget melihat salju turun dari Langit. Setelah sarapan kita keluar lobby berburu untuk di Foto bersama unggukan salju di jalan, istimewa rasanya perziarahan ini karena Tuhan memberi hadiah suasan baru pertama kali, tetapi hal luar biasa ini  diikuti dengan cuaca yang sangat estrim dinginnya, terpaksa kita memakai baju rangkap empat lalu dibungkus jaket dan bersarung tangan pula. Setelah kita puas berfoto ria ada polisi datang ke hotel member kabar bahwa bis wisata tidak boleh jalan keluar, disuruh menunggu pembersih jalan telah selesai. Saat ini hari Jumat Jam 1 siang baru kita jalan menuju Gereja Padang Gembala tertanyata tutup karena banyak salju menumpuk dip agar. Kemudian kita menuju ke Gereja Navity tempat kelahiran Yesus, disini saya terperanjat karena bisa merasakan getaran rohani dimana bisa merasakan dan tahu tempat kelahiran YESUS, lalu kami berdoa untuk mengucapkan syukur. Setelah dari sini kita ke toko souvenir. Kemudian kita kembali ke Hotel Navity lagi.
    - Pada tanggal 21 Pebruari kita jam 7 pagi menuju Israel yaitu kota Yerusalem Barat, disini terdapat kota tua Yerusalem yang direbutkan tiga Agama yaitu Yahudi Kristen dan Islam. Pertama kita mengunjungi Taman Daud dan Makam Daud serta tempat Perjamuan Terakhir ( Last suffer), setelah dari sini kita jalan kaki menuju Tembok Ratapan sambil melewati Via Dolorosa. Karena kondisi cuaca tidak mendukung alias gerimis dan cuaca dingin maka kita sepakat kembali ke hotel.
  - Pada Tanggal 22 Pebruari kita mengulang lagi jalur di via Dolorosa tetapi lewat Pintu Singa ( Lion Gate) disini diyakinni sebagai tempat pembunuhan St Stefanus yang di Rajam oleh pengikut Saulus ( sbelum Paulus),mampir ke Kapel Yesus Naik ke Surga, Gereja Bapa Kami dan ke Gereja St Anna yang terdapat Kolam Betseda yang menyembuhkan orang lumpuh. terus kita ke Kapel Yesus disiksa dan Kapel Yesus memanggul Salib lalu mengikuti jalur jalan salib sampai ke Gereja Makam Kudus. Waktu pulang kita keluar pintu Jaffa ( jaffa Gate) disana sudah ditunggu bisnya untuk melanjutkan perjalanan ke Galilea.














Jumat, 20 Februari 2015

Foto KUKS di Yerusalem 16-27 Pebruari 2015

Perjalanan ke YERUSALEM pada tgl 16-27 Pebruari 2015
Hatiku berdetak kagum dan sukacita ketika bermimpi ke Yerusalem akan menjadi kenyataaan. Segala persiapan baik fisik dan kesehatan saya siapkan juga termasuk  persiapan rohani… Bayangkan empat Negara yang akan kita kunjungi (Mesir, Palestina, Israel, Yordania ) dan tiga budaya, dan tiga agama didalam satu kota Yerusalem yang juga di sebut kota Pintu Surga (pintu antara Bumi dan Surga) 
              Inilah yang saya rasakan selama perjalanan mengemban misi kerinduan akan TUHAN DI YERUSALEM, sesuai dalam injil Mazmur “ Marilah kita pergi ke Yerusalem untuk menyenangkan hati Tuhan”. Pada tanggal 15 Pebruari 2015 saya dan bu Hartatik Umat St Vincentius Surabaya berangkat ke Jakarta naik kereta api GAYA BARU Malam stasiun Gubeng Surabaya- Pasar Senen Jakarta. jika ingin gabung KUKS ziarah Hollyland klik
Sampai Jakarta 16 Pebruari 2015 kita berdua dari station Senen ke Katedral Jakarta mengikuti misa jam 6 pagi, kira2 jam 9 pagi kami sudah di jemput umat Ciledug ibu Vero dan Ibu Asih untuk diajak ke rumahnya, agar bisa berangkat bersama jam 7 malam ke Cengkareng,  
Perjalanan Yang Panjang dari Jakarta menuju Kuwait City memakai fligt Kuwait Air, kira2 jam 8 pagi waktu Kuwait rombongan kita mendarat. Lalu  Transit 4 jam kemudian kita terbang lagi ke Kairo Mesir, Kita tiba di Kairo jam 14,00 waktu Kairo ( Waktu di Mesir, Kuwait, Israel, Yordania adalah sama). Ketika tiba di Kairo kita mendampat makanan kotak Dari KFC (bukan Kentucky Fry Camel…) pihak Sito Tour Mesir Bpk Wael + Bpk Arhad sudah tahu kita semua sudah bosan masakan Arab di pesawat, jadi kita lahap itu makanan kentang + ayam goreng.

MESIR  selama 3 hari 2 malam.
  - Tgl 17 Pebruari kita jam 3 sore sdh di Kairo Mesir.. lalu kita naik bis SITO TOUR. Pertamakali kunjungan dilakukan ke Gereja St Simon atau di sebut juga Gereja Sampah ? kenapa disebut gereja sampah karena gereja Katolik ini ada di lingkungan padat penduduk yang pekerjaannya sebagai pemulung sampah-sampah Kairo, konon disana umat pemeluk agama Islam dan Kristennya tdk ada perbedaan yang mencolok, bahkan diantara mereka saling menghormati. Dan waktu saya kesana terlihat jelas umat Islamnya masuk ke Gereja sambil memerima penjelasan Tokoh agamanya, sepertinya siswa Mesir menerima pendidikan sekolah untuk mengenal Gereja dan Budaya umat Kristen ( tidak seperti di Indonesia bahkan sedikit orang seperti itu yang menghormati Agama orang lain) . Kunjungan kedua kami diajak ke Toko Sauvenir Mesir yang jualan kaos, cincin, gantungan kunci, kalung.. ( disini saya di sapa orang penjual souvenir keliling dengan sebutan are you ABUNA CRISTIAN ??, pada waktu itu artinya apa  saya tidak tahu… tetapi saya jawab YES..YES, padahal Abuna cristian itu berarti PENDETA CRISTIAN..) Kunjungan ketiga kami di ajak ke sungai Niil untuk menaikki kapal Mesir yang dibagian atas kapal ada Balkonnya, suhu di Kairo sudah 10 derajat Celsius untuk orang Indonesia terasa dingin. Disini Kita bisa makan malam dan melihat tarian arab yang pakai perut dan akraksi tarian memutar tampa henti.. banyak atraksi yang di lihat demikian juga KOCEK 35$ yang harus di bayar perorang (bayar sendirisendiri). Kirakira jam 11 malam waktu Kairo rombongan masuk ke hotel Mercure Kairo.
   - Tgl 18 Pebruari 2015 setelah sarapan pagi di Hotel..rombongan menuju Gereja Gantung yang ada di Kairo, Gereja ini milik Umat Ortodok Mesir, kenapa dinamakan Gereja Gantung karena berdiri diantara dua menara Romawi ( Menara yang didirikan bangsa Romawi sebelum dihancurkan bangsa Persia). Di Gapura Gereja Gantung ada tulisan bahasa Arab diatas Gapura yg berbunyi “Carilah kamu mendapat, Ketuklah pintu akan dibukakan, mintalah kamu akan diberi” Di Pelataran Gereja Gantung kita diberi lukisan dinding masa Kecil Yesus waktu mengungsi ke Mesir ( digambarkan Yesus dimandikan St Yosef dan Bunda Maria, air bekas memandikan Yesus mengaliri sungai Nill dimana air bekas mandi Yesus kalau di siramkan pada tanaman akan tumbuh subur).  Kemudian kita ke Sinaggoga bangsa Yahudi di Mesir konon di belakang komplek ini ada sumur yang dijadikan tempat Nabi Musa kecilnya di sembunyikan istri Friaun. Lalu kita menuju Gereja Katolik St Maria yang disini terdapat gua yang di yakini sebagai tembat Keluarga Kudus sembunyi di Mesir selama pelarian dari Betlehem daerah Galilea ( sayang waktu saya kesana ada renovasi Gereja St Maria)
  Kemudian kita melakukan perjalanan kota GIZA lihat Pyramid, sekedar naik unta dan narsis foto bersama dengan latar belakang tiga pyramid. Pyramid adalah termasuk 7 keajaiban dunia, disini saya mulai belajar bahasa arab yang sangat sederhana missal lurus= alattul unta = jamal . Setelah dari pyramid kita menuju ke Gunung Sinai, perjalanan yang sangat panjang kurang lebih 11 jam lamanya, dengan transit berhenti di pos pos Polisi Mesir meskipun sekedar kencing atau di tempat perberhentian bis atau resto dimana kalau kencing harus bayar 1$ untuk bertiga atau berdua. Menurut hemat saya kota Indah dgn bangunan yang berbentuk kotakkotak tetapi jarang sekali ada tumbuhan yang tinggi, sehingga banyak debu dan lalat disana (bau busuk disekitar anak sungai nill). Sekitar jam 12 malam kita sampai di Sinai menginap di Hotel SITO Sinai, luar biasa dinginnya ketika turun dari bis langsung menggigil diperkirakan suhunya sdh mencapai 4 derajat Celsius. Kirakira jam 3 pagi kalau kita mau ke Sinai untuk napak tilas Nabi Musa dengan naik unta yang biayanya 25$, ternyata diluar dugaan ada kabar kalau pergi kesana tdk boleh kembali ke hotel tetapi langsung nunggu di jalan Raya dan suhunya di puncak Sinai  diperkirakan minus. Maka banyak peserta yang membatalkan rencana ke puncak Sinai.
    - Tgl 19 Pebruari setelah sarapan pagi jam 7 Pagi  langsung ke porter TABA Israel, memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Tetapi selama perjalanan kita dapat info cuaca di perbatasan Israel akan ada hujan, bila hujan datang maka daerah perbatasan sebelum Kota Taba Israel masih daerah Mesir akan Banjir, jika banjir kita harus nginap dipinggir jalan itu,.  Dalam perjalanan menuju Taba disana melewati padang gurun yang tandus dan  bisa melihatsuku badui arab yang hidup ditendatenda. Dan Melewati Tunnel perbatasan benua Arab dan Asia serta melewati terowongan dibawah terusan Suez. Puji Tuhan kita sudah tiba di Taba perbatasan Mesir-Israel. Di Porter Taba semua proses pemeriksaan sangat ketat, mereka menggunakan bahasa Inggris dan berpelaku yang sangat hatihati, koper satu persatu dgn orang pemiliknya dperkenankan lewat dibawah pintu detector metal yang canggih kepekaannya. Luar biasa saya akhirnya dan Rombongan selesai di periksa kurang lebih ada 2 jam lebih. 

BERSAMBUNG saat di Israel


Gereja Katolik St Simon atau Gereja sampah
Dinding pelatran halaman Gereja Sampah
Di hotel Sito Sinai MESIR







Jumat, 23 Januari 2015

Jadwal Ziarah YERUSALEM

Mari kita menyenangkan hati Tuhan dengan datang ke Bait Allah...

Bagi saudaraku seiman marilah bersama sama.. dgn KUKS untuk ziarah ke Yerusalem

Segera Daftar ke Sekretariat KUKS , Bisa juga melayani per Paroki

Untuk mengikuti foto foto bisa klik istagram kuks.siarah atau facebook markus.prasodjo
kontak bbm pin 2abc69ab

Ada Program di bulan Pebruari 2016