Selasa, 21 Oktober 2014

JADWAL ZIARAH 2015 - 2016

INFO 

Thn 2016


SUSUNAN ACARA WISATA ROHANI
Semana Santa Larantuka

Usahakan Jam 4.30 Kumpul di Bandara Senen tgl 22 Maret 2016 :           
Persiapan Pribadi :
Jaket + Topi
 Obat-obat Pribadi 

Panitia Menyediakan:
- Lilin
- Kaos hitam                                     

Tgl
Hari
Waktu
Kegiatan

Senen
12.00





18.00
21.00
Tiba di Maumere
- Ke Patung Kristus Raja
- Doa Kedatangan di Katedral Maumere
- LEPO BISPU tempat Paus Yoh. Paulus II
-  Beli Oleh2  Pasar Geliting
- ke Gua Maria BSB

Masuk rumah Retret nillo
Doa Rosario Gua Maria Segala Bangsa

Selasa
07.00 – 08.00
sarapan
 .

08.00 – 10.00
10.00 – 11.00
1. Gereja Tua Sikka.
2. Museum Bikon Blewut LEDALERO
 .
  
12.00 – 14.00
3. Gua Fatima Lela,


15.00 – 18.00
4. Seminari Ritapiret tempat Paus Yohanes   
  Paulus II pernah menginap  1989
5. Replika Betlehem

Rosario di Patung Segala Bangsa


Rabu
09.00
Persiapan Berangkat Tahap Ke dua


09.00 –12.00
13.00 – 14.00
menuju Larantuka
- Jalan Salib di Larantuka di pantai kebis


15.00 – 16.00
Melihat keliling kota memasang
“tikam turo” yaitu memancang tiang-tiang kecil di sisi kiri dan kanan jalan yang akan dilalui saat prosesi Jumat Agung



18.00 – 19.00
Doa Rosario bersama dan pembacaan sengsara Kisah sengsara Yesus
  



Di Rumah Retret PRR

Kamis
07.00 – 08.00
Sarapan


09.00 – 14.00
menuju Tuan Ma di Kapel Pante Kebis dan Tuan Ana di Kapel Lohayong. Ritual mencium Tuan Ma dan Tuan Ana ini berlangsung hingga Jumat pukul 13.00 Wita Larantuka.



17.00 – 19.00
 Jalan Kaki melihat Larantuka persipan
Jumat Agung

Jumat
05.00
Kaos Hitam
Pagi pagi ke Kampung Wure (di pulau Adonara)


15.00- 17.30
prosesi jalan salib + MISA


18.00 – 01.00
Bakar LILIN
Besar
prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka

Sabtu
10.00- 13.00
Ke Maumere


19.00
Misa Lilin Paskah di Katedral Maumere

minggu
07.00

13.00
Misa Pagi anak2
Dgn bagi Bingkasan Kue pada anak2
-Beli Oleh-0leh Tenun

Senen
08.00
12.00
13.00
16.00
Ke bandara maumere- Kupang
- Ke katedral Kupang
- Ke Taman Yesus Maria Kupang
Ke Bandara Kupang plg surabaya


Keterangan : Mohon kiranya peserta membawa kaos hitam lagi untuk ganti-ganti
Bagi Peserta yang masih ingin mengunjungi Timor leste (dua hari ) nambah biaya disana, jangan lupa bawa PASPORT.

1. Peserta ke ZIARAH Larantuka Paskah 2016 ,,,sudah di BUKA 
2. Peserta ke ZIARAH PENANG 24 JULI,sudah di BUKA ( segera daftar untuk thn 2016 )
3. Peserta ke ZIARAH KOREA, 16 OKTOBER ,,sudah di BUKA ( segera daftar untuk thn 2016 )
4. Dibuka pendaftaran Ziarah Mesir Israel Jordania Pebruari 2016
5. Ziarah ke Sulawesi Selatan tana Toraja
   mengunjugi patung Yesus tertinggi di          dunia.










Thn 2015
  

1. Peserta ke ZIARAH Larantuka Paskah 2015 ,,,sukses

2. Peserta Bulan Mei Pembukaan bulan Rosario Gua Maria TENGBAR ... sukses

3. Peserta ke 10 Gua Maria JOGYA,,,,,,,,,,16-21 JUNI ,,,,, sukses

4. Peserta Bulan 21-27 Mei retret Cikanyere, GM Lembang.. sukses

5. Peserta Bulan Mei Penutupan bulan Rosario Gua Maria BALI ... sukses

6.Peserta ke 9 Gua Maria JATENGTIMBALI
    umat Sorowako , bersama Pastor Lukas     Paliling pr..24 Juni - 2 Juli .... sukses

7. Peresmian patung tertinggi.di dunia


8. Peserta Bulan Septemberber 9 Gua        
     Maria 

9.  Peserta Bulan Oktober Gua Maria 
      TENGTOK
   
10. Peserta ke ZIARAH MENADO ,,,sudah          di BUKA 
    turun menjadi 6,5 juta saja untuk 15 orang pendaftar  dirubah jadwalnya November
   




11. Peserta ke ZIARAH CIKANYERE, 9-16 
       DESEMBER ,,sudah di BUKA




COMING SOON LOURDES + ROMA VATICAN 
 Jika Tuhan Berkenan di tahun 2016

KELOMPOK/GROUP
** Peserta kelompok LUAR PULAU bila ingin mengajukan Rombongan sendiri untuk 

    Ziarah bisa DILAYANI... batas minimal >25 orang

BAGI Peserta LUAR PULAU Via PESAWAT   (bagi yang tidak mempunyai Famili 
di surabaya)
- Panitia siap jemput di Bandara lalu di antar ke Rumah Doa ( + 10 org )
  sehingga bisa Istirahat -- Mandi -- Makan Siang --- Makan Malam ,,,
  Tanpa di pungut Biaya Lagi,,,, ALIAS Gratis!!!!

BAGI Peserta LUAR PULAU Via Kapal Laut (bagi yang tidak mempunyai Famili di surabaya)
- Panitia siap jemput di Pelabuhan lalu di antar ke Rumah Retret dekat Pelabuhan ( + 30 org )
   sehingga bisa Istirahat -- Mandi -- Makan Siang --- Makan Malam ,,,
   "Tambah biaya untuk mengisi kas Biara Susteran"

BAGI Peserta LUAR KOTA (bagi yang tidak mempunyai Famili di surabaya)
- Panitia siap jemput di Bandara, Statiun Kereta Api, Terminal Bungurasih 

  sehingga bisa Istirahat -- Mandi -- Makan Siang --- Makan Malam ,,,
  Tanpa di pungut Biaya Lagi,,,, ALIAS Gratis!!!!

Tempat KUMPUL PEMBERANGKATAN jam 19.00 WIB
- Paroki Salib Suci Waru Sidoarjo
- Paroki St Maria Tak Bercela Ngagel SBY
- Paroki St Vincentius AP Widodaren SBY
- Paroki Kristus Raja Ambengan SBY
- Paroki Yakobus SBY






Jumat, 17 Oktober 2014

TAMAN WISATA IMAN

Taman Wisata Iman
Bupati Dairi yang pada saat itu dijabat oleh Dr. Master Parulian Tumanggor pada awal tahun 2001 telah merancang sebuah lokasi yang didalamnya terdapat fasilitas ibadah dan wisata rohani untuk kelima agama yang terdapat di Indonesia. Gagasan itu diwujudkan melalui dialog bersama dengan seluruh tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang ada di Kabupaten Dairi untuk membahas realisasi dari rencana tersebut. Hasil dari dialog tersebut diperoleh berupa penetapan Lokasi Pembangunan Taman Wisata Iman Dairi yaitu di daerah Perbukitan Sitinjo yang terletak di Kecamatan Sitinjo. Adapun pertimbangan sehingga Taman Wisata Iman ditempatkan di lokasi tersebut karena mengingat lokasi tersebut ditutupi oleh hutan pinus dan dinilai sangat bagus dan cocok untuk tempat berwisata rohani. Pada hari Selasa, 20 Agustus 2005 Menteri Agama Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Bapak Prof. Dr. H. Said Agil Al-Munawar melakukan peletakan batu pertama Taman Wisata Iman (TWI) dan disaksikan oleh pemrakarsa Bapak Dr. Master Parulian Tumanggor.
Taman Wisata Iman berada di Bukit Sitinjo dengan luas 130.000 m2, terletak di Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Terletak sekitar 10 km dari Ibu Kota Kabupaten Dairi, Sidikalang atau sekitar 154 km dari Medan.
TWI merupakan tempat wisata religius. TWI bukan hanya mewakili salah satu agama saja yang diakui di Indonesia melainkan semua agama. Mewakili yang dimaksud adalah bahwa dalam TWI terdapat berbagai bangunan-bangunan yang duanggap bersejarah bagi pemeluk agama masing-masing. Mulai dari tempat peribadatan hingga miniatur bangunan yang dianggap bersejarah dan mengenangkan peristiwa-peristiwa penting bagi pemeluknya.
Di Taman Wisata Iman ini kita dapat melihat:
1. Vihara Saddhavadana dengan patung Buddha Rupang
2. Patung Abraham, patung Nabi Musa, Gereja Oikumene, Gua Bunda Maria, dan Perahu Nabi Nuh
3. Perjalanan Kehidupan Yesus Kristus yang terdiri dari Kandang Domba di Betlehem, Yesus memberi makan               5000 orang, Yesus berdoa di Taman Getsmani, 14 tahap perjalanan salib (Via Dolorosa), Bukit Golgota dan         kebangkitan Yesus 
4. Kuil Hindu

5. Lapangan Manasik Haji dan Mesjid.
Gua Maria

Bukit Golgota

Taman Getmani


Kamis, 16 Oktober 2014

Graha Maria Annai Velangkanni Medan

Menyusuri Keunikan Graha Maria Annai Velangkanni

Bangunan Graha Maria Annai Velangkanni  diperkirakan orang  bangunan kuil,yang puncak kubahnya kelihatan ketika kita melewati komplek Perumahan Taman Sakura Indah dan Perumahan Alamanda Indah di daerah Sunggal ini, adalah sebuah kuil tempat peribadatan umat Hindu keturunan India atau Suku Tamil di Kota Medan.
Ini mengingat kita pada ornamen dan bentuk bangunannya biasa ada di kuil-kuil hindu yang pernah saya lihat. Ternyata, bangunan yang berada di Taman Sakura Indah, Jalan Sakura III No.7-10, Tanjung Selamat Medan, bukanlah kuil melainkan sebuah gereja katolik yang megah dan indah.
Sang inisiator dan pendiri, Pastor James Bharataputra S.J yang menemani saya memahami makna mengatakan bahwa Graha Maria Annai Velangkanni ini terbuka untuk siapa saja.
"Ini graha, rumah tempat orang mencari pengalaman dan mengalami kuasa Tuhan. Semua orang yang mengasihi Bunda Maria serta percaya akan kekuatannya, maka Maria akan menuntun para peziarah kepada Yesus, puteranya yang menyelamatkan," tuturnya.
Dia menceritakan, September 2001 pembangunan graha mulai dilakukan selama empat tahun dengan biaya yang dihabiskan sebesar Rp 4 miliar. Dana datang dari kemurahan hati para pecinta dan pemuja Maria, baik Katolik maupun non Katolik. 60 persen dana berasal dari umat di Indonesia, 30 persen Singapura, selebihnya dari Malaysia, India, dan Dubai.
Sejak diresmikan pada 1 Oktober 2005 yang bertepatan dengan hari pembukaan Bulan Rosario, graha ini telah dikunjungi ribuan pecinta Maria dari dalam dan luar negeri.
Menurut Pastor James, Graha Maria ini hadir atas dasar doa Devosi dan Kontemplasi berdasarkan latihan rohani St Ignatius, pendiri Ordo Serikat Yesus. Doa Devosi kepada Bunda Maria muncul sejak abad ke 17 di sebuah desa pesisir di Velangkanni, Tamil Nadu, India, dikenal sebagai Annai Velangkanni yang berarti bunda dari Velangkanni, sama seperti Maria dari Lourdes, Maria dari Fatima.
Graha yang ada di Medan ini merupakan pusat ziarah yang dibangun Keuskupan Agung di Indonesia. Keunikan graha terletak pada keaslian arsitektur Indo-Mogul, setiap ornamen dan pewarnaan dilakukan oleh tangan-tangan amatir dengan makna dari kitab suci.
Bangunan berbentuk menara candi terdiri dari dua tingkat. Lantai dasar dijadikan aula, lantai pertama tempat beribadah dan balkon yang 14 jendelanya menceritakan jalan salib.

Lalu di lantai dua, terdapat patung berdiri Annai Velangkanni dan putranya setinggi 2 meter yang dibawa langsung dari India, terdapat 20 jendela yang menceritakan peristiwa dalam hidup Yesus, dilengkapi tujuh tingkat menara dengan tiga kubah yang melambangkan surga tempat Allah Tri Tunggal bertahta.
Pintu gerbang masuk dihiasi miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo menandakan tidak ada perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan kepercayaan disini.
Interior gereja penuh relief, lukisan, dan ornamen. Terdapat tiga lukisan di kubah atas altar yang menjelaskan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya dan pengadilan terakhir.
"Beberapa hari setelah diresmikan datang keajaiban. Sebuah mata air muncul tepat di bawah kaki patung Bunda Maria. Akhirnya banyak orang datang untuk minum air dan percaya air tersebut dapat menyembuhkan. Maria Annai Velangkanni memang dikenal sebagai Maria Bunda Penyembuh. Kami mengundang Anda untuk datang dan melihat sendiri, karena melihat maka percaya," 






Kamis, 07 Agustus 2014

GUA MARIA SRININGSIH, PRAMBANAN

                            GUA MARIA SRININGSIH, PRAMBANAN
GUA Maria Sendang Sriningsih berada di Stasi Dalem, Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaraknya dari pusat Kota Yogyakarta sekitar 30 kilometer. Gua ini berada di lereng Perbukitan Seribu. Dari atas perbukitan itu, pada malam hari, para peziarah dapat memandang keindahan Kota Klaten Gua Maria Sendang Sriningsih selalu ramai dikunjungi umat. Lebih­-lebih lagi pada malam Jumat Kliwon, jumlahnya berlimpah karena diada­kan Misa Novena yang diadakan pada pukul 21.00 Wib. Seusai perayaan Ekaristi, biasanya diadakan upacara Penghormatan Sakramen Maha kudus atau yang sering disebut Astuti.
Lokasi gua tersebut ditemukan pada tahun 1936 oleh Pastor Hardjo­suwondo. Di situ ada mata air yang disebut Sendang Duren. Suasananya teduh, sejuk clan menenteram­kan hati. Di sekitarnya tumbuh pohon beringin, gayam, mang­ga dan pohon jati. Sebab itu, masyarakat setempat menganggap angker tempat itu. Lahan itu dimiliki oleh Ny. Sutoikromo Rejosari. Tempat itu lazirn digunakan untuk bertapa dan bersemadi. Ro­mo sangat terinspirasi untuk membangun Gua Maria di situ. Akhirnya tanah itu berhasil dibeli oleh Romo Hardjosuwondo pada tahun 1936 atas nama Bapak lg. Atmosuwito.
Pembangunan gua dimulai dengan pembuatan bak untuk menampung air yang selalu mengalir. Di samping bak air itu dibangun rumah joglo yang dibeli dari daerah Gading, Gunung Kidul. Patung Maria yang sedang menimang bayi Yesus ditempatkan di dalam rumah itu. Patung itu dibikin oleh Bapak Brotosurnarto dari Serut dan dibantu oleh Bapak Brotosukisno dari Jali. Bahan dasarnya terbuat dari batu murni yang diambil dari Kaligesing wilayah Pathuk, Gunung Kidul. Selain itu, dibangun stasi-stasi untuk proses Jalan Salib. Setelah selesai, gua ini diberi nama Sendang Sriningsih. Meski masih sederhana, gua ini mulai dijadikan tempat ziarah oleh umat sekitarnya, terutama dari Stasi Jali, Paroki Wedi dan Klaten.
Seizing dengan perjalanan waktu, komplek Sendang Sriningsih senantiasa dibenahi tata letak dan desainnya. Pada tahun 1953 dibangun Gua Maria di sebelah barat ditambah altar yang cukup megah untuk ukuran waktu itu. Stasi-stasi jalan salib juga diremajakan. Sejak saat itu, Sendang Sriningsih lebih dikenal oleh masyarakat luar. Namun, dalam rentang waktu tertentu, gua ini sepi pengunjung, bahkan ditelantarkan perawatannya karena kesulitan dana.
Pada tahun 1958, pengelolaan gua ini diserahkan kepada lembaga Katolik Jali Gayamprit. Salah satu kegiatannya adalah memperlebar halaman gua ke arah utara. Gua Maria dipindahkan ke selatan menghadap utara. Rumah joglo dipindahkan ke halaman Sendang Sriningsih sebelah utara (tempat joglo sekarang). Patung Bunda Maria diganti dengan patung baru hasil karya Romo A. Soenarjo, SJ. Jalan menuju gua juga dipindah lewat utara. Untuk menjamin pemeliharaan Gua Sendang Sriningsih selanjutnya, sejak tahun 1976 pengelolaannya diserahkan kepada Paroki Wedi. Berdasarkan keputusan itu, dibentuklah Panitia Sriningsih (PANSRI). Di bawah PANSRI, pengelolaan gua ini mengalami peningkatan dan keberadaannya semakin dikenal di kalangan umat Katolik.
Sejak April 1979, PANSRI .memasang salib besar di bukit Golgota, membangun Gua Maria baru dan membangun sebuah Kapel berbentuk joglo. Akhirnya, pada 19 Agustus 1979, Kardinal Yustinus Darmoyuwono selaku Uskup Agung Semarang meres­mikan Gua Maria Sriningsih. Sejak itu, jumlah peziarah yang ber­kunjung ke tempat suci itu semakin bertambah.
TRADISI
Ada beberapa tradisi menarik di Gua Maria Sendang Sriningsih. Pertama, setiap tanggal 30 April dan 30 September, mulai pukul 19.00 Wib diadakan prosesi oncor dari Gereja Santa Maria Marganingsih menuju bukit Golgota Sedang Sriningsih sambil berdoa Jalan Salib sebagai tanda pembukaan Bulan Maria dan Bulan Rosario, yang dilanjutkan dengan Misa Kudus di Sendang Sriningsih.
Kemudian dilakukan upacara penutupan setiap tanggal 31 Mei clan 31 Oktober.
Kedua, doa setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon yang selalu dihadiri banyak umat. Sejak tahun 1985, setiap malam Jumat Kliwon di tempat ini dilakukan Misa Novena yang dilanjutkan dengan Peng­hormatan Sakramen Ma­hakudus. Upacara ini selalu dihadiri umat dari paroki­-paroki terdekat.
Ketiga, perayaan misa setiap malam Minggu pada bulan Mei dan Oktober. Perayaan ini bukan untuk menggantikan misa Hari Minggu, melainkan untuk merayakan karya kesela­matan Allah bersama para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
DOA KEPADA BUNDA ALLAH
Ya Santa Perawan Maria yang tidak bercela, Bunda Allah, Ratu alam semesta, Bunda kami yang baik; engkau yang melampaui semua santo-santa dalam kesucian, satu-satunya harapan para Bapa Gereja, dan suka cita para santo-santa. Melaluimu kami telah diperdamaikan dengan Allah. Engkau satu-satunya pembela kaum pendosa, dan penjamin keselamatan mereka yang mengarungi samudera kehidupan ini. Yo Ratu Agung, Bunda Allah, selimutilah kami dengan sayap-sayap betas kasihanmu dan kasihanilah kami.
Kami harap hanya dalam engkau, ya Santa Perawan yang amat suci, kini dan sepanjang masa. Amin.


Oh... Yesus.. kuatkan kami untuk melangkah

Salib Kehidupan






Rabu, 06 Agustus 2014

GUA MARIA SENDANGSONO, PROMASAN , KALIBAWANG, YOGYAKARTA

SENDANGSONOberasal dari dua kata bahasa jawa, yaitu sendang = mata air, sumur, telaga kecil; dan sono = pohon. Sono - berarti mata air di bawah sebatang pohon Sono. Gua Maria Sendangsono berada di wilayah Paroki Promasan, Kali­bawang, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dulunya sumber mata air ini bernama sumber Semagung, salah satu dari tiga mata air di daerah itu.
Kalibawang terhitung daerah yang kekurangan air. Masyarakat setempat sukar sekali menggali sumur. Hanya ada tiga sumber air (sendang) di tempat itu, yaitu Beji Klangon, Tuksanga yang terletak di antara Gereja Plasa dan tempat peziarah, serta Semagung yang disebut Senidangsana bertuah.
Sejak awal Sendangsono dipandang istimewa daripada kedua sendang lainnya. Menurut cerita para tetua setempat, para rahib Buddha yang pulang dari Candi Borobudur ke biara atau Boro Kidul (sekarang Boro) memilih air Sendangsono ini untuk diminum. Para rahib itu menelusuri pegunungan Menoreh melewati Kerug membelok ke kiri menuju Boro, kemudian berjalan kaki dari Borobudur ke Boro Kidul. Perjalanan yang panjang di bawah cuaca yang kadang-kadang kurang bersahabat memaksa para rahib itu beristirahat. Mereka memilih tempat istirahat di Semagung karena sumber airnya jernih.
Sementara itu, masyarakat sekitar meyakini tempat itu didiami segala macam roh. Sebab itu, selama bertahun-bertahun mereka mengadakan selamatan dan sesaji bagi roh-roh yang menguasai sendang tersebut. Konon, roh-roh itu mendiami pohon-pohon sono yang bertumbuh subur di sekitar sendang tersebut. Di samping itu, orang-orang sekitar juga kerap memanfaatkan tempat ini untuk semadi.
Latar belakang tersebut menjadi sumber inspirasi untuk menjadikannya sebagai tempat kudus. Artinya, karena sendar itu sudah lama menjadi tempat "kudus", selayaknya kalau didiami oleh orang yang suci juga. Tempat yang dulunya diyakini sebagai tempat tinggal roh-roh diubah menjadi ' tempat bersemayam Bunda Maria yang tak bernoda.
Pada 14 Desem­ber 1904, Pastor van Lith SJ, seorang misonaris berke­bangsaan Belanda, tiba di Semarang. Ia memberkati sum­ber air itu untuk membaptis 173 orang, rombongan pertama orang Ka­tolik yang dipermandikan di Jawa Tengah.
Momen bersejarah ini terukir di sebuah tembok yang terletak dekat dengan altar utama Gua Sendangsono. Sejak saat itu, tempat itu terkenal sebagai tempat ziarah Bunda Maria.
Kemudian, Pater J. B. Prennthaler SJ (1885-1946), yang sudah lama bertugas di Kalibawang, menganjurkan agar di sekitar sendang yang sudah diberkati ini sebaiknya ditempatkan suatu lambang kekudusan dan kemurnian. Maka dimulailah pembangunan "Gua Lourdes" untuk menernpatkan patung Bunda Maria. Patung Bunda Maria dipesan khusus dari Perancis dan di­bawa dengan kereta api ke Sentolo. Di tempat itu, puluhan umat mengangkut peti seberat 300 kg menuju Sendang­sono.
Gua ini diberkati pada 8 Desember 1929 bertepatan dengan perayaan 75 Tahun Bunda Maria Tidak Bernoda oleh pembesar Serikat Jesuit, Pater Kalken. Upacara itu dihadiri sekitar 700 umat. Perayaan misa dirayakan di sebuah gedung Sekolah Dasar yang biasa digunakan sebagai gereja, yang disusul dengan prosesi ke Gua Maria.
Gua Maria Sendangsono dianggap sebagai Gua Lourdes-nya Asia Tenggara dewasa ini. Selama bulan Mei dan Oktober, ribuan umat dari berbagi paroki di Indonesia dan bahkan dari luar negeri berziarah ke gua ini. Sayangnya, suasana di sekitar tempat ziarah tersebut saat ini kurang bening dan khusuk seperti dulu. Banyak pengunjung menjadikannya sebagai tempat rekreasi, dan bukan untuk berdoa dan bermeditasi.
DOA KEPADA BUNDA MARIA DARI LOURDES
Ya Santa Perawan Maria yang tak bercela, Bunda yang berbelas kasih, jaminan kesehatan bagi yang sakit, pengungsian bagi pendosa, penghiburan bagi yang menderita, engkau tahu segala
kebutuhan kami, kesulitan kami, dan penderitaan kami; berkenanlah
mengarahkan pandangan kami pada belas kasihanmu. Dengan menampakkan diri di gua Lourdes, engkau diizinkan membuat tempat itu suci, dan dari situ pun engkau dapat menyalurkan anugerahmu dan banyak penderita telah memperoleh kesembuhan dari kelemahan dan sakit mereka, baik jasmani maupun rohani.
Maka, kami datang dengan keyakinan penuh seraya memohon dengan perantaraan keibuanmu. Penuhilah don kabulkanlah, ya Bunda terkasih, permohonan-pemohonan kami. Kami pun akan berusaha keras untuk meniru keutamaanmu agar kami suatu saat dapat menikmati kemuliaanmu, ya Bunda dan memperolehnya dalam keabadian. Amin.

BAPAK BARNABAS SARIKRAMA, CIKAL BAKAL UMAT KATOLIK SENDANGSONO, KALIBAWANG
Sendangsono tidak bisa lepas dari tokoh yang satu ini. Bapak Barnabas Sarikrama. Pasalnya, dialah yang menjadi cikal bakal umat Katolik di Sendangsono. Semula Barnabas Sarikrama adalah penggemar ilmu gaib atau supranatural. Ia tidak merasa puas dengan keterangan-keterangan yang didapatnya dari guru-guru kebatinannya. Maka, ia pun sering berpindah-pindah dari guru yang satu ke guru yang lain. Akhirnya ia bertemu dengan Dawud.
Pak Grudug alias Dawud Tadikrama sebelumnya adalah Guru ilmu gaib. Ia kerap mengadakan olah batin di tempat-tempat yang wingit, seperti sendang, sungai, dan lain sebagainya dengan diikuti oleh para muridnya di sekitar Kalibawang. Apabila ia mau meresmikan muridnya yang telah lulus dalam ilmu yang diajarkannya diadakanlah upacara peresmian. Peresmian itu sendiri harus disaksikan oleh murid-murid lain dan roh-roh yang mendiami kayu-kayu sana dan batu-batu di sekitar tempat itu. Ia akhirnya menjadi pengikut Kristen kerasulan setelah gurunya Kyai Setjowiguno "dikalahkan" oleh Kyai Sadrach Surapranata, seorang pendeta kristen Kerasulan Pusat yang berkedudukan di Karangjasa Kutoarjo.
Suatu hari Sarikrama tidak dapat bepergian sama sekali karena kakinya luka parah. Obat-obatan dari dukun tidak menolongnya. Kadang-kadang ia menerima saleb dari temannya yang bernama Dawud itu. Namun, kedatangan Dawud tidak pasti. Sering obatnya suclah habis, namun Dawud tidak kunjung tiba juga.
Terdorong oleh hasratnya untuk sembuh, ia bertanya kepada Dawud, dari mana saleb itu ia peroleh. Diterangkan oleh Dawud bahwa saleb itu dari seorang Pastor Belanda di Muntilan. Yang mengobati pun seorang dokter Belanda. Orangnya besar tetapi hatinya baik. Mendengar keterangan Dawud itu Sarikrama minta untuk dihantarkan ke Muntilan menghadap Pastor itu.
Di Pastoran Muntilan Sarikrama diterima Bruder Th. Kersten, SJ yang disebut dokter Belanda oleh Dawud tadi. Dengan sabar luka Sarikrama yang telah parah dicuci bersih, disaleb, kemudian dibalut dengan perban yang bersih oleh Bruder itu. Lalu Sarikrama dinasihatkan oleh Bruder agar setiap Minggu ia datang. Pulangnya Sarikrama diberi saleb dan perban. Namun, Sarikrama. tidak lekas pulang. Hatinya sangat terharu atas perawatan dan penerimaan Bruder terhadap dirinya. Sarikrama pun keluar dari kamar obat seraya minta izin untuk boleh masuk gereja bersama dengan orang-orang lainnya itu.
Di dalam gereja ia mendengar ajaran Romo Van Lith SJ, yang kemudian diulangi oleh guru agamanya yang bernama Bapak Andreas Martaatmadja. Hatinya tertarik. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk minta kepada Bapak Andreas agar setiap hari Minggu ia boleh masuk ke gereja. Permintaannya itu tentu saja tidak ditolak. Bahkan pulangnya pun ia diberi buku Katekismus dengan huruf Jawa yang boleh dipelajari oleh Sarikrama di rumahnya.
Sarikrama menjadi murid yang setia. Pada tanggal 20 Mei 1904, ia dibaptis oleh Romo Van Lith, SJ di Muntilan. Sesudah upacara selesai, Sarikrama pun berkata, "Kaki saya sudah dapat saya pergunakan lagi karena kemurahan Tuhan. Maka, selanjutnya akan saya pakai untuk karya Tuhan." Ia pun mohon dilatih agar bisa menjadi guru agama. Tanpa diminta dan tanpa dibayar ia lalu berkeliling ke seluruh Kalibawang, memberi bimbingan kepada lebih kurang 200 orang. Baik para calon maupun orang-orang yang telah dibaptis membutuhkan pelajaran agama dari Romo Van Lith SJ dan Romo­romo pembantunya. Namun, sehari-hari mereka telah sibuk mengajar di sekolah, sehingga kekurangan waktu untuk mengunjungi mereka secara rutin. Padahal mereka perlu diteguhkan imannya, dibangkitkan semangatnya sehingga bersemangat dalam mengikuti Perayaan Ekaristi di Muntilan. Jarak Muntilan - Kalibawang tidak dekat. Pulang pergi berjalan kaki 4 jam. Bukan pekerjaan mudah. Hanya semangat yang menggairahkan mereka untuk pergi beribadat dengan kondisi seperti itu.
Bapak Barnabas Sarikrama tahu akan kebutuhan orang-orang dalam asuhannya. Sambil mengajar ia kadang-kadang membagi-bagi pil kinine atau saleb yang diperolehnya dari Pastoran Muntilan atau Mendut Karya Kerasulan Awam. Hal itu dikerjakan sendiri selama 9 tahun tanpa Pastor. Baru pada tahun 1914 Romo Gembala yang pertama ialah Romo L. Groenewegen SJ almarhum datang meringankan beban Pak Barnabas. Namun, karena kesehatannya terganggu beliau pulang ke negeri Belanda pada tahun 1920 diganti oleh Romo J. Barendsen SJ. Pada tahun 1924 Gembala yang kedua ini pindah tempat diganti gembala ketiga yang agak lama di sini, yakni Romo JB. Prennthaler SJ dari Austria. Pada tahun 1935 beliau cuti ke luar negeri dan setelah kembali pada tahun 1936 ia bekerja di Rawaseneng, Temanggung di mana sekolah pertanian katolik Helderweird didirikan. Pada bulan Mei 1940 beliau ditawan Polisi Belanda, sebab padawaktu itu Belanda berperang dengan Jerman. Dari situ beliau diangkut ke Madiun. Beberapa bulan kemudian ia diizinkan kembali ke Rawaseneng. Setelah pulau Jawa diduduki Jepang Rawaseneng ditinggalkannya lalu kembali ke Boro pada tahun 1942.
Sebelumnya pada tahun 1935-1942 yang melanjutkan misi di Kalibawang adalah Romo C. Tepemma SJ dibantu oleh Romo R. Jasawihardja SJ.
Akhirnya Romo JB. Prennthaler SJ pada awal pemerintahan jepang tahun 1942 dikembalikan lagi ke Boro.
Pekerjaan 13apak Barnabas tidak pernah terhenti. Ia tetap menjadi pembantu Romo. Maka, pada tanggal 8 Desember 1929 diadakan perayaan 25 tahun atau pesta perak Bapak Guru Agama tanpa bayar ini bersamaan dengan perayaan 25 tahun misi di Kalibawang. Dalam pidatonya Romo JB. Prennthaler SJ menguraikan riwayat misi di Kalibawang yang telah maju. Pertama kali, beliau mengucapkan terima kasih kepadaTuhan Yang Mahesa. Kedua kalinya, ucapan terima kasih ditujukan kepada para penderma mini Kalibawang di luar dan di dalam negeri, juga kepada Romo Van Lith Sj sebagai peletak dasar karya misi Kalibawang. Dan, tak ketinggalan kepada saudari-saudara lain yang telah ikut menyukseskan misi tersebut. Ketiga kalinya ucapan yang panjang lebar dan mengharukan ditujukan khusus untuk Bapak Barnabas Sarikrama. Seperempat abad lamanya rasul awam ini membantu misi tanpa diminta, tanpa dibayar. Maka Sri Paus berkenan menghadiahkan kepadanya sebuah bintang yang berwujud "SALIB KEHORMATAN EMAS" dengan tulisan "Pro Eccclesia et Pontificae" beserta piagamnya. Dialah bangsa Indonesia yang pertama kali mendapat kehormatan itu. Semua penduduk Kalibawang dan para tamu yang hadir ternganga, heran. Bapak Barnabas Sarikrama sendiri tidak kuasa menahan harunya. Ia pun malah memuji Sri Paus yang dari Roma nun jauh di sana berkenan menunjukkan cinta kasihnya kepada umatnya yang sederhana di tempat yang sangat pelosok.

Wajah para hadirin berseri-seri tatkala Romo V. Kalken SJ menyematkan "Salib Kehormatan" di dada Bapak Barnabas yang pada waktu itu memakai baju hitam. Beberapa orang menitikkan air mata tak kuasa menahan rasa haru dan gembira. Satu per satu memberi sambutan. Dan, Bapak Barnabas Sarikrama merasa malu mendengar pidato pujian Romo JB. Prennthaler Sj, namun hatinya berdebar-­debar campur aduk dengan rasa gembira dan bangga diperkenankan memakai "SALIB KEHORMATAN" di dadanya. (sumber: Buku Sendang SONO, 1967)








GUA MARIA JATININGSIH, KULONPROGO

                                  GUA MARIA JATININGSIH, KULONPROGO
GUA Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih berada di wilayah Paroki Klepu, Dusun Jitar, Desa Sumberarum, Keca­matan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Semula gua ini diberi nama Sendang Pusung (Sing ngapusi busung = siapa yang berbohong akan terkena tulahnya), sesuai dengan nama asli lokasi gua. Namanya kemudian diubah menjadi Sendang Jati(ning)sih, yang berarti sumber air dari rahmat Tuhan yang sungguh­sungguh mendatangkan kedamaian.
Pembangunan gua ini merupakan bagian dari perjalanan Gereja Katolik di daerah Klepu, khususnya di dusun Jitar Pingitan. Berawal dari kisah pembabtisan EX. Dikin di Gereja St. Petrus dan Paulus Klepu pada bulan Desember 1952 yang ketika itu duduk di Kelas V SD Kanisius Ngapak. Setahun kemudian disusul empat rekannya, yaitu Ignasius Tentrem, P Sapardi, B. Semin, dan Taryono. Mereka inilah yang rnenjadi pionir berkembangnya agama Katolik di wilayah ini. Kemudian P Sapardi memelopori berdirinya Lingkungan Jitar Pingitan. Setiap malam Jumat ia mengikuti pandidikan agama Katolik.
Jumlah umat secara berangsur-angsur bertambah. Kalangan muda-­mudi menggelar berbagai acara kesenian tradisional seperti wayang orang, ketoprak, karawitan, dan tari kreasi baru sebagai sarana pewartaan. Mereka tidak segan-segan mencantumkan label Katolik di belakang nama kegiatan mereka seperti wayang orang Katolik dan Ketoprak Pemuda Katolik. Berkat perjuangan dan jerih payah kaum muda pada tahun 1984 hampir semua orangtua di Dusun jitar dan Pingitan ingin belajar agama Katolik secara intensif. Rupanya, karena semakin banyak umat yang menganut agama Katolik sementara belum ada tempat ibadat, salah seorang pemuka umat, yaitu Ignasius Purwowidono tergerak hatinya untuk menghibahkan tanah seluas 200 meter persegi yang bersebelahan dengan rumahnya untuk didirikan kapel bagi umat Lingkungan Jitar Pingitan.
Karena sesuatu hal, lahan itu kemudian ditukar dengan tanah lain yang terletak di tepi Kali Progo seluas 800 meter persegi. Di tempat inilah kemudian dibangun Gua Maria.
Gua Maria Ratu Perdamaian Sen­dang Jatiningsih dibangun secara swadaya oleh umat sejak I Mei 1986. Patung Bunda Maria dibuat oleh seorang pematung dari Muntilan. Patung itu ditahtakan pada 15 Agustus 1986 dan diberkati oleh Romo Mardi Kartono SJ pada 8 September 1986. Sejak saat itu gua ini ramai dikunjungi umat dari berbagai daerah.
                                    DOA KEPADA BUNDA MARIA, SANG RATU DAMAI
Salam Maria, Sang Perawan yang terberkati; Bunda Allah yang berkenan menampakkan diri kepada para gembala kecil yang seder­hana. Sang Perawan yang amat suci, Bunda kaum peziarah, yang menghiasi Bunda Tuhan kami, Ratu Sorga dan bumi. Bunda rahmat ilahi, perawan yang amat berbelaskasih, kepadamu kami yang pendosa dan malang ini datang, menghadapmu dengan rendah hati dan menyampaikan penghormatan dan berterimakasih. Ya Bunda yang amat mengagumkan, kami berjanji untuk setia melayanimu selalu dan melakukan semua dengan daya kekuatan kami untuk membuat yang lain mencintaimu.
Kami menyerahkan seluruh pengharapan kami kepadamu. Kanii yakin selamat berkat pemeliharaanmu. Melalui campurtanganmu Putera Ilahimu terangilah pikiran kami, murnikanlah hati kami, dan penuhilah jiwa kami dengan rahmat yang amat kami perlukan saat ini. Terimalah kami sebagai hambamu dan lindungilah kami di bawah mantol birumu, ya Bunda yang berbelaskasih. Kami dengan rendah hati memohon kepadamu, Ya Bunda, penuhi kami dengan rahmat dan kasih yang kini kami cari, jika mereka mencari bantuan bagi jiwa yang abadi, dan jiwa-jiwa yang kami doakan. (Sebutlah permohonan lintensi pribadi Anda)
Dengan dayamu berilah kami kekuatan kehendak untuk menjauhi segala cobaan dan godaan, kami memohon kepadamu selalu untuk menolong kami, khususnya pada saat kami menjelang ajal kami. Janganlah meninggalkan kami, kami memohon dengan sangat kepadamu, sampai engkau memandang kami selamat di sorga, dengan berkatmu dan mendaraskan lagu pujianmu memenuhi sepanjang segala abad. Amin.
OMKA Paroki Kristus Raja Surabaya

OMKA Paroki Makasar + Menado



“PERSIAPKAN JALAN BAGI TUHAN”

“PERSIAPKAN JALAN BAGI TUHAN”
Hai… saudaraku seiman dalam Yesus Kristus…
Kita tahu dan sadar dalam iman kita bahwa “Yesus akan datang kembali sebagai Raja Penghakiman...”
Sudahkah kita siapkan Jalan bagi Tuhan…
Yesaya 11:1-10                           
          “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah, dan menjatuhkan keputusan dengan keadilan, Serta akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; Ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya Ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat dengan liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.”
Roma 15:4-9
          “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Yesus Kristus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau diantara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu”
Matius 3:1-12
          “Pada waktu itu tampilah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata:”Ada suara orang berseru-seru di padang gunung; Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” Yohanes memakai jubah unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan. Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.
Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!
Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya  dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tak terpadamkan.”


“Mari kita siapkan Jalan Bagi Yesus agar kita terselamatkan dari ajakan iblis dan berani memanggul salib kehidupan kita… untuk mengikuti Yesus.” aminn